THE POWER OF
KEPEPET
·
Lebih baik kecil jadi bos daripada gede jadi kuli
“Jangan pernah ulangi kesalahan papah, lebih baik kecil jadi bos,
daripada gede jadi kuli! Kuli kerja, kuli dapet makan, kuli nggak kerja, nggak
dapet makan! Kalau boss, nggak kerja pun dapet makan”.
a. Seandainya
Bayangkanlah,
malam hari ini orang yang paling Anda sayangi mendadak sakit keras, demam
tinggi dan kondisinya semakin melemah. Kemudian Anda membawanya ke rumah sakit.
Setelah pengecekan di UGD, ternyata dia didiagnosis mengidap tumor yang gadas
di otaknya. Dokter mengatakan bahwa ia harus dioperasi besok juga, jika tidak
ia maka nyawanya akan melayang. Nah, operasi hanya bisa dilakukan jika Anda
menyerahkan uang tunai sejumlah 50 juta rupiah paling lambat jam 9 esok hari.
Bagaimana? Apakah Anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan
menjawab, “Harus Bisa!!!”.
Kenapa?
Karena sudah Kepepet! Jika tidak, nyawa orang yang Anda sayangi akan melayang.
Entah dari mana dapat duitnya.
Seberanarnya
jika dalam kondisi yang kepepet dan tidak diberikan pilihan untuk “tidak bisa”
manusia akan berpikir dan mencari jalan “bagaimana harus bisa”.
b. Kepepet vs
Iming-Iming
Ada
dua sebab yang membuat orang tak tergerak untuk berubah. Yang pertama adalam
impiannya kurang kuat, yang kedua adalah tidak dalam keadaan kepepet. Dua hal
tersebut yang seringkali disebut orang sebagai kurang motivasi. Kesalahan fatal
yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun pelatih/trainer motivasi pada
umumnya adalah hanya menggunakan impian sebagai “iming-imgin” untuk
menggerakkan peserta pelatihan (audiens).
“Apa impian Anda? Siapa yang ingin punya mobil dan rumah mewah? Atau
bahkan punya kapal pesiar?” Memang saat di ruang seminar, mereka sangat terbawa
dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya, sepulang dari seminar,
mereka dihantam kemalasan. Apa jadinya? Mereka tetap diam di tempat.
Contoh
kedua, ada seorang salesman bekerja di suatu perusahaan. Seperti perusahaan
lainnya, mereka menerapkan sistem bonus. “Jika Anda mencapai target yang telah
ditentukan, maka Anda akan mendapatkan bonus jalan-jalan keluar negeri” Kata
Managernya. “Gimana, semangat?” lanjut manager berinteraksi.
“Semangat...ngat...ngat!!!” sambut selesman, sambil mengepalkan tangannya
seolah siap tempur. Bulan demi bulan berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian
si manager bertanya, “Apa bonus yang aku tawarkan kurang besar?” Salesman
menjawab, “Tidak Pak, cukup besar, mudah-mudahan bulan depan tercapai Pak.”
Setelah 3 bulan masa “iming-iming” tak berhasil, si manager mulai mengubah
strategi. Dia berteriak agak menekan di dalam meetingnya, “Pokoknya, jika Anda
tidak bisa mencapai target penjualan yang sudah saja tetapkan, Anda saya
PECAT!”. Nah, keluarlah keringat dingin si salesman, malu, nggak pedenya hilang
seketika. Kok bisa? Karena KEPEPET! Yang dia pikirkan, jika dia tidak dapat
memenuhi target, dia akan dipecat. Jika dipecat, penghasilannya akan nol.
“Trus, anak istriku makan apa?” pikirnya. Anehnya, target penjualan yang selama
ini tidak pernah tercapai, bisa juga terlampaui. Itulah yang disebut dengan The
Power Of Kepepet.
Dan
97?% orang termotivasi karena kepepet. Bukan karena iming-iming. Maka dari itu
ada pepatah mengatakan:
“KONDISI
KEPEPET ADALAH MOTIVASI TERSEBER DI DUNIA”
![]() |
c. Dari Mana
Datangnya Kekuatan Itu?
Percaya atau
tidak, sebagian siswa pernah merasakan pengalaman ini. SKS alias Sistem Kebut
Semalam, hampir semua siswa pernah mengalaminya. Menjelang ujian esok harinya,
Anda belajar semalaman. Apa yang terjadi? Otak Anda seolah “Melar” dengan
cepat, memepelajari banyak hal hanya dalam 1 malam. Anehnya juga, rasa rantuk
dan lelah pun dapat terkalahkan.
Bukankah ini
yang di namakan The Power of Kepepet. Dalam keadaan kepepet, selelah apapun tak
akan terpedulikan.
d. Efek Placebo
Profesor Tony Dickenson melakukan suatu percobaan dengan
memberikan kejutan listrik terhadap 6 orang mahasiswa. Mereka dibagi menjadi 2
kelompok, yang akan diberi 2 macam pil, yaitu pil pengurang rasa sakit (pain
killer) dan pil penambah rasa sakit (pain booster). Dengan level sengatan yang
sama. Kelompok yang memakan pil pain booster merasakan rasa sakit lebih dari
sebelum mereka memakan pil. Sedangkan kelompok yang memakan pil pain killer
bisa meahan rasa sakit lebih lama dan merasa berkurang sengatannya. Tahukan
Anda, pil apa sebenarnya yang mereka makan? Ternyata bukan ginseng atau obat
kuat. Kedua pil tersebut sebenarnya sama-sama tepung dan gula yang diberi warna
berbeda. Itulah yang disebut egek Placebo atau obat tipuan. Lantas, apa yang
membuat mereka merasa lebih sakit atau berkurang rasa sakitnya? HARAPAN dan
KEYAKINAN mereka terhadap apa yang akan terjadi pada mereka akan benar-benar
terjadi.
Banyak orang tidak berani melangkah karena mereka mempunyai
keyakinan-keyakinan yang salah, yang idbentuk oleh dirinya dan lingkungannya selama
ini. Mereka tidak yakin bahwa bereka bisa melompat lebih tingg dari apa yang
mere pikirkan.
Sama halnya dengan orang yang berkata, “Kalo Rezekiku memang
segini, ya selamanya bakalan segini”. Bukankah Tuhan seperti prasangka kita?
Jika kita berprasangka Tuhan akan memberikan yang terabik, maka yang akan kita
dapat adalah yang terbaik. Demikian juga sebaliknya, jadi hati-hati dengan apa
yang kita pikirkan, karena itu bisa menjadi kenyataan.
“JIKA KITA BERHARAP SESUATU AKAN MENYAKITI PADA DIRI KITA, MAKA
HASILNYA BISA BENAR-BENAR MENYAKITKAN”
![]() |
![]() |
Sekilas pengetahuan yang dapat dijadikan sebuah super dan power
motivasi.


